Tata Kelola Candi Borodbudur

Obyek – obyek wisata budaya di Indonesia sejauh ini ada yang sudah dikenal oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan ada juga yang hanya dikenal wisatawan lokal saja. Dan obyek wisata yang telah dikenal oleh wisatawan lokal maupun mancanegara berada di Kabupaten Magelang, obyek wisata itu adalah Candi Borobudur. Candi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di abad ke-9 dan tercatat juga sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage). Pesona keindahan alam dan lingkungan yang masih segar serta asri bisa kita rasakan di daerah sekitar obyek wisata.

  1. a.      Sejarah Singkat

Terdapat beberapa teori tentang penamaan Candi Borobudur di dalam buku Candi Borobudur – Pusaka Budaya Umat Manusia, Dr. Soekmono (1978) diantaranya:

Sir Thomas Stamford Raffles menyatakan bahwa:

“Budur yang kuno” ( Boro = kuno, Budur = nama tempat), “Sang Budha Yang Agung” ( Boro = Agung, Budur = Buddha), “Budha yang banyak”    ( Boro = banyak, Budur = Buddha).

Soekmono dan Stutertheim menyatakan bahwa:

Berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi bisa juga diartikan sebagai sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Menurut Legenda, Candi Borobudur didirikan oleh arsitek Gunadharma, namun secara historis belum diketahui secara pasti. Sejarawan J.G. de Casparis mengungkapkan pendapatnya mengenai siapa pendiri Candi Borobudur yang sesungguhnya berdasarkan interpretasi prasasti Karangtengah (824 M) dan prasasti Kahalunan (842 M), dari prasasti tersebut diketahui bahwa pendiri Candi Borobudur adalah Samaratungga, seorang raja Mataram dari dinasti Syailendra. Namun pembangunan candi ini diperkirakan memakan waktu setengah abad, yang pada akhirnya Candi Borobudur dapat diselesaikan pada masa putri Samaratungga yang bernama Ratu Pramudawardhani. Dalam prasasti Karangtengah disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Ratu Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur

Candi Borobudur muncul kembali tahun 1814 ketika Sir Thomas Stamford Raffles yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Britania Raya di pulau Jawa. Raffles mendapatkan informasi bahwa di daerah Kedu telah ditemukan susunan batu bergambar. Kemudian Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki temuan tersebut. Kondisi candi masih sangat parah dan tampak seperti sebuah bukit yang tertutup semak belukar. Cornelius menyadari bahwa temuan ini adalah sebuah penemuan besar dalam sejarah. Usaha pembersihan pun dilakukan dengan mengerahkan sekitar 200 orang yang memakan waktu kurang lebih dua bulan. Pada tahun 1834 pemugaran ini dilanjutkan oleh Residen Kedu yang bernama Hartman dan baru berjalan sepenuhnya pada tahun 1835. Selain kegiatan pembersihan, Hartman juga mengadakan penelitian khususnya terhadap stupa puncak Candi Borobudur, namun yang amat disayangkan adalah tidak pernah diterbitkannya laporan penelitian tersebut.

Pendokumentasian berupa gambar bangunan dan relief candi dilakukan oleh Wilsen selama 4 tahun sejak tahun 1849, sedangkan dokumen foto dibuat pada tahun 1873 oleh Van Kinsbergen.

Pendapat Dumarcay Candi Borobudur didirikan dalam 5 tahap pembangunan yaitu:

1)      Tahap I ( ± 750 Masehi), pada awalnya dibangun dengan susunan bertingkat yang sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

2)      Tahap II ( ± 792 Masehi), pelebaran pada pondasi Borobudur dengan ditambahkannya dua undak persegi dan satu undak lingkaran.

3)      Tahap III ( ± 792 Masehi), peletakan stupa induk besar di pondasi yang telah selesai diperlebar.

4)      Tahap IV ( ± 824 Masehi), undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.

5)      Tahap V ( ± 833 Masehi), ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.

  1. b.      Restorasi Candi Borobudur

Upaya restorasi Candi Borobudur dilakukan sebanyak dua kali yaitu pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dibawah pimpinan Theodoor van Erp dan yang kedua dilakukan oleh Pemerintah Indonesia yang diketuai oleh Prof. Ir. Roosseno.

Pemerintah Hindia Belanda membentuk sebuah panitia pemugaran serta perawatan Candi Borobudur pada tahun 1900. Dan kegiatan dapat sepenuhnya berjalan pada tahun 1907 yang di pimpin Theodoor van Erp. Pemugaran tahap pertama sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah Hindia Belanda. Sasaran pemugaran lebih banyak ditujukan pada bagian puncak candi yaitu tiga teras bundar dan stupa pusatnya. Namun oleh karena beberapa batunya tidak diketemukan kembali, bagian puncak (catra) stupa, tidak bisa dipasang kembali. Pemugaran bagian bawahnya lebih bersifat tambal sulam seperti perbaikan/pemerataan lorong, perbaikan dinding dan langkan tanpa pembongkaran sehingga masih terlihat miring. Usaha-usaha konservasi telah dilakukan sejak pemugaran pertama oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan terus menerus mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap Candi Borobudur, sementara proses kerusakan dan pelapukan batu-batu Candi Borobudur yang disebabkan oleh berbagai faktor terus berlangsung. Dan hasil penelitian yang diadakan oleh suatu panitia yang dibentuk dalam tahun 1924 diketahui bahwa sebab-sebab kerusakan itu ada 3 macam, yaitu korosi, kerja mekanis dan kekuatan tekanan dan tegangan di dalam batu-batu itu sendiri (O.V. 1930 : 120-132).

Sesudah usaha pemugaran Van Erp berhasil diselesaikan pada tahun 1911, pemeliharaan terhadap Candi Borobudur terus dilakukan. Berdasarkan perbandingan antara kondisi saat itu dengan foto-foto yang dibuat Van Erp 10 tahun sebelumnya, diketahui ternyata proses kerusakan pada Candi Borobudur terus terjadi dan semakin parah, terutama pada dinding relief batu-batunya rusak akibat pengaruh iklim. Selain itu bangunan candinya juga terancam oleh kerusakan. Dengan masuknya Indonesia menjadi anggota PBB, maka secara otomatis Indonesia menjadi anggota UNESCO. Melalui lembaga UNECO tersebut, Indonesia mulai mengimbau kepada dunia internasional untuk ikut menyelamatkan bangunan yang sangat bersejarah tersebut. Usaha tersebut berhasil, dengan dana dari Pelita dan dana UNESCO, pada tahun 1975 mulailah dilakukan pemugaran secara total. Oleh karena pada tingkat Arupadhatu keadaannya masih baik, maka hanya tingkat bawahnya saja yang dibongkar. Dalam pembongkaran tersebut ada tiga macam pekerjaan, yaitu tekno arkeologi yang terdiri atas pembongkaran seluruh bagian Rupadhatu, yaitu empat tingkat segi empat di atas kaki candi, pekerjaan teknik sipil yaitu pemasangan pondasi beton bertulang untuk mendukung Candi Borobudur untuk setiap tingkatnya dengan diberi saluran air dan lapisan kedap air di dalam konstruksinya, dan pekerjaan kemiko arkeologis yaitu pembersihan dan pengawetan batu-batunya, dan akhirnya penyusunan kembali batu-batu yang sudah bersih dari jasad renik (lumut, cendawan, dan mikroorganisme lainnya) ke bentuk semula.

Sejak tahun 1991, Borobudur telah tercatat sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage) No 592 oleh UNESCO. Pengakuan ini adalah pengakuan internasional tertinggi terhadap sebuah situs peninggalan dunia. Dari sepuluh kriteria Warisan Budaya Dunia, Borobudur memenuhi 3 kriteria, yaitu:

1)      Mewakili sebuah mahakarya kejeniusan kreatif manusia.

2)      Memperlihatkan pentingnya pertukaran nilai – nilai kemanusiaan dalam suatu rentang waktu atau dalam suatu kawasan budaya dunia terhadap pengembangan arsitektur atau teknologi, karya monumental, tata kota, atau rancangan lansekap.

3)      Secara langsung atau nyata terkait dengan peristiwa – peristiwa atau tradisi yang masih hidup, dengan gagasan, atau keyakinan, dengan karya seni dan sastra yang memiliki nilai – nilai universal signifikan.

 

  1. c.       Keadaan Geografis Candi Borobudur

Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Secara astronomis terletak di 70.361.2811 LS dan 1100.121.1311 BT. Lingkungan geografis Candi Borobudur dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah Timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah Utara, dan pegunungan Menoreh di sebelah Selatan, serta terletak di antara Sungai Progo dan Elo. Candi Borobudur didirikan di atas bukit yang telah dimodifikasi, dengan ketinggian 265 dpl.

  1. d.      Bentuk Bangunan

1)      Denah Candi Borobudur ukuran panjang 121,66 meter dan lebar 121,38 meter serta tinggi 35,40 meter.

2)      Susunan bangunan berupa 9 teras berundak dan sebuah stupa induk di puncaknya. Terdiri dari 6 teras berdenah persegi dan3 teras berdenah lingkaran.

3)      Pembagian vertikal secara filosofis meliputi tingkat Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

4)      Pembagian vertikal secara teknis meliputi bagian bawah, tengah, dan atas.

5)      Terdapat tangga naik di keempat penjuru utama dengan pintu masuk utama sebelah timur dengan ber-pradaksina.

6)      Batu-batu Candi Borobudur berasal dari sungai di sekitar Borobudur dengan volume seluruhnya sekitar 55.000 meter persegi (kira-kira 2.000.000 potong batu). Pengelompokan bagian – bagian dari Candi Borobudur terdiri dari:

a)      Relief

Disamping maknanya sebagai lambang alam semesta dengan pembagian vertikal secara filosofis meliputi Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, Candi Borobudur mengandung maksud yang amat mulia, maksud ini diamanatkan melalui relief-relief ceritanya. Candi Borobudur mempunyai 1.460 panil relief cerita yang tersusun dalam 11 deretan mengitari bangunan candi dan relief dekoratif berupa relief hias sejumlah 1.212 panil. Relief cerita pada tingkat Kamadhatu (kaki candi) mewakili dunia manusia menggambarkan perilaku manusia yang masih terikat oleh nafsu duniawi. Hal ini terlihat pada dinding kaki candi yang asli terpahatkan 160 panil relief Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab akibat. Tingkat Rupadhatu (badan candi) mewakili dunia antara, menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi, akan tetapi masih terikat oleh suatu pengertian dunia nyata. Pada tingkatan ini dipahatkan 1.300 panil yang terdiri dari relief Lalitavistara, Jataka, Avadana, dan Gandawyuha.

 

b)      Arca

Tokoh – tokoh yang di arcakan pada bagian – bagian Candi Borobudur adalah Dhyani Buddha, Manusi Buddha, dan Boddhisatva dengan total keseluruhan jumlah arca sebesar 504 buah.

Rincian letak arca:

  1. Pada tingkat Rupadhatu terdapat 432 arca, ukuran semakin ke atas semakin kecil dan diletakkan pada relung, dengan rincian: Teras I : 104 arca Teras II : 104 arca Teras III : 88 arca Teras IV : 72 arca Teras V : 64 arca.
  2. Pada tingkat Arupadhatu terdapat 72 arca dengan ukuran sama dan diletakkan di dalam stupa, dengan rincian:Teras VI : 32 arca Teras VII : 24 arca Teras VIII : 16 arca.
  3. Pada tingkat Rupadhatu ini terdapat 432 arca Dyani Buddha diletakkan di dalam relung di segala penjuru arah mata angin yaitu: Arca Dhyani Buddha Aksobya letak di sisi Timur dengan sikap tangan Bhumisparsamudra, Arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa letak sisi Selatan dengan sikap tangan Waramudra, Arca Dhyani Buddha Amoghasidha letak di sisi Utara dengan sikap tangan Abhayamudra, Arca Dhyani Buddha Wairocana di pagar langkan tingkat V dengan sikap Witarkamudra.
  4. Di dalam stupa teras I, II, dan III terdapat arca Dhyani Buddha Vajrasattva dengan sikap tangan Dharmacakramudra.
  5. Arca singa : 32 buahMenurut agama Buddha singa adalah kendaraan sang Buddha pada waktu naik ke surga, simbol kekuatan pengusir pengaruh jahat untuk menjaga kesucian Candi Borobudur.

c)      Stupa

Jumlah stupa 73 buah dengan rincian 1 buah stupa induk, 32 stupa pada teras melingkar I, 24 stupa pada teras melingkar II, dan 16 stupa pada teras melingkar III.

Beberapa bentuk stupa yang terdapat di Candi Borobudur:

  1. Stupa induk tanpa lubang terawang.
  2. Stupa pada teras melingkar berlubang terawang:Lubang belah ketupat pada stupa teras melingkar I dan II Lubang segi empat pada stupa teras melingkar III. Arti simbolis lubang terawang belah ketupat: Berkaitan dengan filosofi menuju ke tingkat kesempurnaan.
  3. e.       Gambaran Umum Kepengurusan Candi Borobudur

Balai Konservasi Peninggalan Borobudur merupakan UPT di lingkungan Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Berdirinya Balai Konservasi Peninggalan Borobudur tidak lepas dari Proyek Pemugaran Candi Borobudur tahun 1973 – 1983. Untuk menangani Candi Borobudur yang telah selesai dipugar memerlukan perawatan, pengamatan dan penelitian terus menerus. Oleh karena itu, maka pada tahun 1991 berdirilah Balai Studi dan Konservasi Peninggalan Borobudur. Pada tahun 2006 berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.40/OT.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006 berubah namanya menjadi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Sebenarnya pada awalnya merupakan bentuk lain dari Centre for Borobudur Studies. Fungsinya sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga teknis dalam bidang konservasi dan pemugaran. Beberapa fasilitas pendukung dan tenaga teknis yang menguasai bidang pelestarian, khususnya pemugaran dan konservasi, mengantarkan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur menjadi pelaksana pelatihan tenaga teknis konservasi dan pemugaran untuk institusi tingkat nasional dan internasional. Di samping itu Balai Konservasi Peninggalan Borobudur juga membantu konservasi peninggalan sejarah dan purbakala di seluruh Indonesia, bahkan di negara Asia Tenggara.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.40/OT.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur mempunyai tugas pokok melaksanakan kajian di bidang konservasi, teknik sipil, arsitektur, geologi, biologi, kimia, arkeologi, dan melaksanakan pelatihan tenaga teknis konservasi serta perawatan Borobudur dan peninggalan purbakala lainnya. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut Balai Konservasi Peninggalan Borobudur mempunyai fungsi sebagai berikut :

1)      Pelaksanaan kajian bidang konservasi, teknik sipil, arsitektur, geologi, biologi, kimia, dan arkeologi di lingkungan Candi Borobudur serta peninggalan purbakala lainnya.

2)      Pelaksanaan dan pemanfaatan hasil kajian bidang konservasi, teknik sipil, arsitektur, geologi, biologi, kimia, dan arkeologi di lingkungan Candi Borobudur serta peninggalan purbakala lainnya.

3)      Pelaksanaan pelayanan dan pengembangan, serta pelatihan tenaga teknis di bidang konservasi peninggalan purbakala.

4)      Pelaksanaan studi konservasi situs Borobudur, peninggalan sejarah dan purbakala lainnya.

5)      Pelaksanaan perawatan, pengamanan serta pemeliharaan koleksi Candi Borobudur.

6)      Pelaksanaan dokumentasi dan publikasi situs Borobudur dan peninggalan purbakala lainnya.

7)      Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai.

Bertitik tolak dari Tupoksi tersebut, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur selain mempunyai tugas merawat Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia (World Heritage) dengan Nomor 592/1992, juga mempunyai berbagai fasilitas untuk menunjang terlaksananya Tupoksi tersebut. Balai Konservasi Peninggalan Borobudur memiliki laboratorium kimia, mikrobiologi, fisik/petrografi, dan SEM (scaning electron microscope). Keberadaan laboratorium ini untuk mengembangkan berbagai metode konservasi dan kajian untuk  konservasi baik dari batu, bata, kayu, dan lainnya. Selain itu juga untuk uji coba bahan konservasi sebagai bahan pengganti yang lebih aman, efektif dan efisien. Bahan yang telah diuji direkomendasikan untuk pelaksanaan konservasi benda cagar budaya di Indonesia. Bahkan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dapat membantu pelaksanaan analisis sampel dari institusi lain, mahasiswa yang sedang melaksanakan penelitian, maupun pihak swasta yang membutuhkan. Tidak hanya penelitian laboratorium saja, namun juga memiliki berbagai arsip foto, gambar, buku, dan lainnya pada masa pemugaran Candi Borobudur sampai kegiatan monitoring Candi Borobudur yang dilaksanakan secara kontinyu oleh Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.

Balai Konservasi Peninggalan Borobudur juga melakukan kerjasama dengan melibatkan beberapa pakar dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sebagai nara sumber dalam pelaksanaan kajian/studi  bidang konservasi, teknik sipil, arsitektur, geologi, biologi, kimia, dan arkeologi di lingkungan Candi Borobudur serta peninggalan purbakala lainnya. Selain itu juga sebagai tempat pelatihan tenaga teknis konservasi dan pemugaran benda cagar budaya secara rutin melaksanakan diklat konservasi dan pemugaran. Berjalannya organisasi atau institusi tidak terlepas dari adanya visi dan misi untuk memberikan arahan perencanaan ke depan agar dalam melaksanakan Tupoksi lebih terarah, sistematis, komprehensif, dan berorientasi pada keberhasilan program. Bertitik tolak dari Renstra Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Renstra Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, serta Tupoksi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, maka ditetapkan Visi dan Misi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur 2005 – 2009, yaitu :

Visi:

“Terwujudnya kelestarian Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia dan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur sebagai pusat kajian dan pelatihan konservasi benda cagar budaya”

Misi:

Untuk tercapainya Visi tersebut maka ditetapkan Misi sebagai berikut:

1)      Terwujudnya kelestarian Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia.

2)      Terwujudnya Balai Konservasi Peninggalan Borobudur sebagai pusat kajian dan pelatihan konservasi benda cagar budaya.

3)      Terwujudnya SDM yang profesional di bidang pelestarian benda cagar budaya.

4)      Terwujudnya kerjasama dalam dan luar negeri di bidang konservasi benda cagar budaya.

 

 

Mencermati visi dan misi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, terdapat lima pilar utama yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan upaya pelestarian terhadap Candi Borobudur serta meningkatkan fungsi dan kinerja Balai Konservasi. Lima pilar utama tersebut sebagai berikut:

1)      Kelestarian Borobudur Sebagai Warisan Budaya Dunia.

2)      BKPB sebagai pusat studi dan kajian konservasi.

3)      Pengembangan SDM yang professional.

4)      Publikasi dan penyebaran informasi.

5)      Kerjasama antar pihak.

Untuk mengembangkan lima pilar seperti yang sudah diuraikan di atas, maka Arah Kebijakan yang sudah disusun adalah sebagai berikut:

1)      Meningkatkan pengelolaan Candi Borobudur sesuai dengan prinsip-prinsip Warisan Dunia.

2)      Mengoptimalkan penelitian-penelitian terapan yang berkaitan dengan konservasi benda cagar budaya.

3)      Mengoptimalkan peran laboratorium agar lebih dapat berdaya guna untuk kepentingan pelestarian benda cagar budaya.

4)      Meningkatkan kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan lembaga terkait baik nasional maupun internasional dalam bidang konservasi.

5)      Mengembangkan metode konservasi benda cagar budaya.

6)      Menyelenggarakan pelatihan bidang konservasi benda cagar budaya.

7)      Mengoptimalkan publikasi tentang Candi Borobudur dan benda cagar budaya lainnya kepada masyarakat.

8)      Meningkatkan kemampuan SDM bidang pelestarian benda cagar budaya.

  1. f.       Susunan Struktur Organisasi Tata Kerja Kepengurusan

Susunan organisasi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur sebagaimana Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.40/OT.001/MKP/2006 tanggal 7 September 2006 terdiri dari :

1)      Kepala

2)      Sub Bagian Tata Usaha

3)      Seksi Pelayanan Teknis

4)      Kelompok Tenaga Fungsional

Untuk  kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, susunan organisasi tersebut dijabarkan lebih lanjut dengan membentuk urusan-urusan pada Sub Bag Tata Usaha dan kelompok kerja-kelompok kerja pada Seksi Pelayanan Teknis, yaitu:

1)      Sub Bagian Tata Usaha

a)      Urusan Kepegawaian

b)      Urusan Keuangan

c)      Urusan Perlengkapan dan Rumah Tangga

d)     Urusan Pelayanan Masyarakat

2)      Seksi Pelayanan Teknis

a)      Kelompok Pemeliharaan

  1. Sub Pokja Pemeliharaan Candi
  2. Sub Pokja Pemeliharaan Lingkungan Candi

b)      Kelompok Kerja Dokumentasi dan Publikasi

  1. Sub Pokja Dokumentasi
  2. Sub Pokja Publikasi

c)      Kelompok Kerja Kajian dan Laboratorium

  1. Sub Pokja Kajian
  2. Sub Pokja Laboratorium

d)     Kelompok Kerja Perijinan dan Perlindungan

  1. Sub Pokja Perijinan
  2. Sub Pokja Perlindungan

Sebagai Unit Pelaksana Teknis tentunya keberadaan Kelompok Kerja (Pokja) memiliki peran yang penting dalam pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tugas pokok organisasi untuk mencapai kinerja organisasi yang telah direncanakan. Dengan bertitik tolak dari Tupoksi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan tantangan ke depan yang semakin kompleks maka Kelompok Kerja (Pokja) Teknis disusun sebagai berikut:

1)      Pokja Pemeliharaan memiliki tugas pokok rutin untuk melaksanakan pemeliharaan dan perawatan terhadap Candi Borobudur dan Situs (Zona 1) Candi Borobudur, serta melaksanakan perawatan dan pemiliharaan  koleksi benda cagar budaya yang berada di kantor Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan koleksi yang berada Museum Karmawibangga.

2)      Pokja Dokumentasi dan Publikasi memiliki tugas pokok rutin melaksanakan dokumentasi, perawatan dan pengelolaan dokumen film, foto, gambar, dan peta yang berkaitan dengan Candi Borobudur; melaksanakan publikasi dan kehumasan dalam bentuk pengelolaan web site, pameran, sosialisasi, penyuluhan, penerbitan, dan pelayanan (pemanduan) untuk tamu-tamu dinas yang berkunjung ke Candi Borobudur; melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan; serta melaksanakan penggambaran dan pemetaan.

3)      Pokja Kajian dan Laboratorium memiliki tugas pokok rutin melaksanakan kajian/studi di bidang konservasi, teknik sipil, arsitektur, geologi, biologi, kimia, dan arkeologi; melaksanakan pengembangan laboratorium dan metode konservasi; melaksanakan pengembangan kualitas SDM bidang konservasi dan pemugaran; serta melaksanakan pengembangan fotogrametri untuk pelestarian benda cagar budaya.

4)      Pokja Perlindungan memiliki tugas pokok rutin untuk melaksanakan perlindungan dan pengamanan terhadap Candi Borobudur; melaksanakan pelayanan perijinan; serta melaksanakan pengaturan pemanfataan dan pengelolaan serta monitoring kunjungan (visitor management) terhadap Candi Borobudur. Usaha perlindungan dilakukan dengan membuat mintakat (zoning) pada situs Candi Borobudur yaitu:

a)      Zona I, Area suci, untuk perlindungan monumen dan lingkungan arkeologis (radius 200 m).

b)      Zona II, Zona taman wisata arkeologi, untuk menyediakan fasilitas taman dan perlindungan lingkungan sejarah (radius 500 m).

c)      Zona III, Zona penggunaan tanah dengan aturan khusus, untuk mengontrol pengembangan daerah di sekitar taman wisata (radius 2 km).

d)     Zona IV, Zona Perlindungan daerah bersejarah, untuk perawatan dan pencegahan kerusakan daerah sejarah (radius 5 km).

e)      Zona V, Zona taman arkeologi nasional, untuk survei arkeologi pada daerah yang luas dan pencegahan kerusakan monumen yang masih terpendam (radius 10 km).

Zona I dan zona II dimiliki oleh pemerintah. Zona I dikelola oleh Balai Studi dan Konservasi Borobudur, Zona II dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Pada Zona II juga tersedia fasilitas turis : parkir mobil, loket tiket, pusat informasi, museum, kios-kios, dan lain-lain. Zona III, IV, dan V dimiliki oleh masyarakat, tetapi pemanfaatannya dikontrol oleh pemerintah daerah.