Ekowisata

 

1. Definisi Ekowisata

Apa yang disebut dengan ekowisata atau sering juga ditulis atau disebut dengan ekoturism,wisata ekologi, ecotourism, eco-tourism, eco tourism,          eco tour, eco-tour dsb?

‘ecotourism’ sebenarnya sudah ada sejak 1987 yang dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sbb:

“Nature or ecotourism can be defined as tourism that consist in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plantas and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in the areas.”                                                                                                                                                                                                   

 “Wisata alam atau pariwisata ekologis adalah perjalanan ketempat-tempat alami yang relatif masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemari) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini.”

Kemudian disempurnakan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada awal tahun 1990 yaitu sebagai berikut:

“Ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat”.

2. Pengertian dan konsep Dasar Ekowisata

Pengertian dan konsep dasar ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat

 Pada saat ini, ekowisata telah berkembang. Wisata ini tidak hanya sekedar untuk melakukan pengamatan burung, mengendarai kuda, penelusuran jejak di hutan belantara, tetapi telah terkait dengan konsep pelestarian hutan dan penduduk lokal. Ekowisata ini kemudian merupakan suatu perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial. Ekowisata tidak dapat dipisahkan dengan konservasi. Oleh karenanya, ekowisata disebut sebagai bentuk perjalanan wisata bertanggungjawab.

Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang sangat erat dengan prinsip konservasi. Bahkan dalam strategi pengembangan ekowisata juga menggunakan strategi konservasi. Dengan demikian ekowisata sangat tepat dan berdayaguna dalam mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di areal yang masih alami. Bahkan dengan ekowisata pelestarian alam dapat ditingkatkan kualitasnya karena desakan dan tuntutan dari para eco-traveler.

3.  Kriteria ekowisata

Adapun kriteria yang perlu diperhatikan pada tahap perencanaan ini meliputi:

a. Rencana pengembangan ekowisata harus mengacu pada rencana pengelolaan kawasan.

Rencana pengelolaan kawasan merupakan panduan tertulis pengelolaan habitat, kegiatan, peruntuka kawasan, pengorganisasian dan monitoring dalam rangka menjamin kelestarian fungsi kawasan. Pengembangan ekowisata yang merupakan salah satu kegiatan yang diperkenankan untuk dilakukan didalam kawasan taman nasional dan taman wisata alam, dengan demikian harus sesuai dengan rencana pengelolaan kawasan.

b. Memperhatikan kondisi ekologi/lingkungan.

Yang harus diperhatikan adalah:

Rona awal kondisi fisik, kimia, biologi dan wilayah yang akan dkembangkan menjadi obyek wisata.

  • Perilaku satwa; ekowisata yang akan dikembangkan tidak akan merubah perilaku satwa.
  • Perencanaan sarana dan prasarana harus direncanakan dengan seting alam setempat dan tidak memotong lintasan satwa/jalur satwa

c.   Memperhatikan daya tarik, keunikan alam dan prospek pemasaran daya tarik tersebut.

Pengemasan produk dan pemilihan obyek yang merupakan ciri khas dan daya tarik suatu wilayah pengembangan ekowisata harus terencana dengan baik dan variatif. Melakukan analisis potensi dan hambatan yang meliputi analisis terhadap potensi sumberdaya dan keunikan alam, analisis usaha, analisis dampak lingkungan, analisis ekonomi (cost & benefit), analisis sosial dan analisis pemanfaatan ruang.

d.   Memperhatikan kondisi sosial, budaya dan ekonomi.

  • Beberapa hal yang harus diperhatikan meliputi: Kegiatan ekowisata harus mampu memberdayakan masyarakat sekitar.
  • Memperhatikan rona awal sosial, budaya dan ekonomi dari wilayah yang akan dikembangkan menjadi obyek.
  • Membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar.
  • Merangsang/memotivator pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

e. Tata Ruang

  • Yang harus diperhatikan:
    Kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan melalui pelaksanaan sistem pemintakatan (zonasi).
  • Perencanaan pembangunan wilayah setempat; ekowisata yang akan dikembangkan harus terintegrasi dengan pembangunan wilayah setempat.

f.   Menyusun Action Plan/Rancang Tindak Terintegrasi atas dasar analisis yang telah dilakukan

g.   Melakukan Public Hearing/Konsultasi Publik terhadap rencanayang akan dikembangkan

4. Ekowisata berbasis masyarakat (community-based ecotourism)

Pola ekowisata berbasis masyarakat adalah pola pengembangan ekowisata yangmendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh oleh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh.

Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif komunitas. Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jualsebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak. Polaekowisata berbasis masyarakat mengakui hak masyarakat lokal dalam mengelolakegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun sebagai pengelola.                  

Ekowisata berbasis masyarakat dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, dan mengurangi kemiskinan, di mana penghasilan ekowisata adalah dari jasa-jasa wisata untuk turis: fee pemandu; ongkos transportasi; homestay; menjual kerajinan, dll.

Ekowisata membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan ekowisata.

Dengan adanya pola ekowisata berbasis masyarakat bukan berarti bahwa masyarakatakan menjalankan usaha ekowisata sendiri. Tataran implementasi ekowisata perludipandang sebagai bagian dari perencanaan pembangunan terpadu yang dilakukan disuatu daerah. Untuk itu, pelibatan para pihak terkait mulai dari level komunitas,masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan organisasi non pemerintah diharapkanmembangun suatu jaringan dan menjalankan suatu kemitraan yang baik sesuai perandan keahlian masing-masing.

Beberapa aspek kunci dalam ekowisata berbasis masyarakat adalah:

􀂃    Masyarakat membentuk panitia atau lembaga untuk pengelolaan kegiatanekowisata di daerahnya, dengan dukungan dari pemerintah dan organisasi masyarakat (nilai partisipasi masyarakat dan edukasi)

􀂃   Prinsip local ownership (=pengelolaan dan kepemilikan oleh masyarakat setempat) diterapkan sedapat mungkin terhadap sarana dan pra-sarana ekowisata, kawasan ekowisata, dll (nilai partisipasi masyarakat)

􀂃   Homestay menjadi pilihan utama untuk sarana akomodasi di lokasi wisata (nilaiekonomi dan edukasi)

􀂃   Pemandu adalah orang setempat (nilai partisipasi masyarakat)

􀂃    Perintisan, pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata menjadi tanggungjawabmasyarakat setempat, termasuk penentuan biaya (=fee) untuk wisatawan (nilaiekonomi dan wisata).

Beberapa aspek kunci dalam ekowisata adalah:

􀂃   Jumlah pengunjung terbatas atau diatur supaya sesuai dengan daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakat (vs mass tourism)

􀂃   Pola wisata ramah lingkungan (nilai konservasi)

􀂃   Pola wisata ramah budaya dan adat setempat (nilai edukasi dan wisata)

􀂃   Membantu secara langsung perekonomian masyarakat lokal (nilai ekonomi)

􀂃   Modal awal yang diperlukan untuk infrastruktur tidak besar (nilai partisipasi masyarakat dan ekonomi).

5. Ekowisata dan konservasi

Sejak 1970an, organisasi konservasi mulai melihat ekowisata sebagai alternatif ekonomi yang berbasis konservasi karena tidak merusak alam ataupun tidak “ekstraktif” dengan berdampak negatif terhadap lingkungan seperti penebangan dan pertambangan.

Ekowisata juga dianggap sejenis usaha yang berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan konservasi.

Namun agar ekowisata tetap berkelanjutan, perlu tercipta kondisi yang memungkinkan di mana masyarakat diberi wewenang untuk mengambil keputusan dalam pengelolaan usaha ekowisata, mengatur arus dan jumlah wisatawan, dan mengembangkan ekowisata sesuai visi dan harapan masyarakat untuk masa depan.

Ekowisata dihargai dan dkembangkan sebagai salah satu program usaha yang sekaligus bisa menjadi strategi konservasi dan dapat membuka alternatif ekonomi bagi masyarakat. Dengan pola ekowisata, masyarakat dapat memanfaatkan keindahan alam yang masih utuh, budaya, dan sejarah setempat tanpa merusak atau menjual isinya.

 

6. Prinsip-prinsip pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dan Konservasi

 

a. Keberlanjutan Ekowisata dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan

(prinsip konservasi dan partisipasi masyarakat)

Ekowisata yang dikembangkan di kawasan konservasi adalah ekowisata yang “HIJAUdan ADIL” (Green& Fair) untuk kepentingan pembangunan berkelanjutan dankonservasi, yaitu sebuah kegiatan usaha yang bertujuan untuk menyediakan alternatifekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan yang dilindungi, berbagimanfaat dari upaya konservasi secara layak (terutama bagi masyarakat yang lahan dan sumber daya alamnya berada di kawasan yang dilindungi), dan berkontribusi pada konservasi dengan meningkatkan kepedulian dan dukungan terhadap perlindungan bentang lahan yang memiliki nilai biologis, ekologis dan nilai sejarah yang tinggi.

Kriteria:

  • • Prinsip daya dukung lingkungan diperhatikan dimana tingkat kunjungan

dan kegiatan wisatawan pada sebuah daerah tujuan ekowisata dikelola sesuai dengan batas-batas yang dapat diterima baik dari segi alammaupun sosial-budaya

  • Sedapat mungkin menggunakan teknologi ramah lingkungan (listrik tenaga surya, mikrohidro, biogas, dll.)
  • Mendorong terbentuknya ”ecotourism conservancies” atau kawasan ekowisata sebagai kawasan dengan peruntukan khusus yang pengelolaannya diberikan kepada organisasi masyarakat yang berkompeten

b.  Pengembangan institusi masyarakat lokal dan kemitraan

(Prinsip partisipasi masyarakat)

Aspek organisasi dan kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata juga menjadi isu kunci pentingnya dukungan yang profesional dalam menguatkan organisasi lokal secara kontinyu, mendorong usaha yang mandiri dan menciptakan kemitraan yang adil dalam pengembangan ekowisata. Beberapa contoh di lapangan menunjukan bahwa ekowisata di tingkat lokal dapat dikembangkan melalui kesepakatan dan kerjasama yang baik antara Tour Operator dan organisasi masyarakat (contohnya: KOMPAKH,LSM Tana Tam). Peran organisasi masyarakat sangat penting oleh karena masyarakat adalah stakeholder utama dan akan mendapatkan manfaat secara langsung dari pengembangan dan pengelolaan ekowisata.

Koordinasi antar stakeholders juga perlu mendapatkan perhatian. Salah satu model percontohan organisasi pengelolaan ekowisata yang melibatkan semua stakeholders termasuk, masyarakat, pemerintah daerah, UPT, dan sector swasta, adalah ”Rinjani

Trek Management Board.” Terbentuknya Forum atau dewan pembina akan banyak membantu pola pengelolaan yang adil dan efektif terutama di daerah di mana ekowisata merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat setempat.

Kriteria:

  •  Dibangun kemitraan antara masyarakat dengan Tour Operator untuk

memasarkan dan mempromosikan produk ekowisata; dan antara lembaga masyarakat dan Dinas Pariwisata dan UPT

  • Adanya pembagian adil dalam pendapatan dari jasa ekowisata di masyarakat
  • Organisasi masyarakat membuat panduan untuk turis. Selama turis berada di wilayah masyarakat, turis/tamu mengacu pada etika yang tertulis di dalam panduan tersebut.
  • Ekowisata memperjuangkan prinsip perlunya usaha melindungi pengetahuan serta hak atas karya intelektual masyarakat lokal, termasuk:

foto, kesenian, pengetahuan tradisional, musik, dll.

c.  Ekonomi berbasis masyarakat (Prinsip partisipasi masyarakat)

 

Homestay adalah sistem akomodasi yang sering dipakai dalam ekowisata. Homestay bisa mencakup berbagai jenis akomodasi dari penginapan sederhana yang dikelola secara langsung oleh keluarga sampai dengan menginap di rumah keluarga setempat.

Homestay bukan hanya sebuah pilihan akomodasi yang tidak memerlukan modal yang tinggi, dengan sistem homestay pemilik rumah dapat merasakan secara langsung manfaat ekonomi dari kunjungan turis, dan distribusi manfaat di masyarakat lebih terjamin. Sistem homestay mempunyai nilai tinggi sebagai produk ekowisata di mana soerang turis mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai alam, budaya masyarakat dan kehidupan sehari-hari di lokasi tersebut.Pihak turis dan pihak tuan rumah bisa saling mengenal dan belajar satu sama lain, dan dengan itu dapat menumbuhkan toleransi dan pemahaman yang lebih baik. Homestay sesuai dengan tradisi keramahan orang Indonesia.

Dalam ekowisata, pemandu adalah orang lokal yang pengetahuan dan pengalamannya tentang lingkungan dan alam setempat merupakan aset terpenting dalam jasa yang diberikan kepada turis. Demikian juga seorang pemandu lokal akan merasakan langsung manfaat ekonomi dari ekowisata, dan sebagai pengelola juga akan menjaga kelestarian alam dan obyek wisata.

Kriteria:

  • Ekowisata mendorong adanya regulasi yang mengatur standar kelayakan homestay sesuai dengan kondisi lokasi wisata
  • Ekowisata mendorong adanya prosedur sertifikasi pemandu sesuai dengan kondisi lokasi wisata
  • Ekowisata mendorong ketersediaan homestay
  • Ekowisata dan tour operator turut mendorong peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta perilaku bagi para pelaku ekowisata terutama Masyarakat

d.  Prinsip Edukasi:

Ekowisata memberikan banyak peluang untuk memperkenalkan kepada wisatawan tentang pentingnya perlindungan alam dan penghargaan terhadap kebudayaan lokal.

Dalam pendekatan ekowisata, Pusat Informasi menjadi hal yang penting dan dapat juga dijadikan pusat kegiatan dengan tujuan meningkatkan nilai dari pengalaman seorang turis yang bisa memperoleh informasi yang lengkap tentang lokasi atau kawasan dari segi budaya, sejarah, alam, dan menyaksikan acara seni, kerajinan dan produk budaya lainnya.

Kriteria:

  • • Kegiatan ekowisata mendorong masyarakat mendukung dan mengembangkan upaya konservasi
    • Kegiatan ekowisata selalu beriringan dengan aktivitas meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengubah perilaku masyarakat tentang perlunya upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
    • Edukasi tentang budaya setempat dan konservasi untuk para turis/tamu menjadi bagian dari paket ekowisata
    • Mengembangkan skema di mana tamu secara sukarela terlibat dalam kegiatan konservasi dan pengelolaan kawasan ekowisata selama kunjungannya (stay & volunteer).

 

e.  Pengembangan dan penerapan rencana tapak dan kerangka kerja pengelolaan lokasi ekowisata (prinsip konservasi dan wisata).

Dalam perencanaan kawasan ekowisata, soal daya dukung (=carrying capacity) perlu diperhatikan sebelum perkembanganya ekowisata berdampak negative terhadap alam (dan budaya) setempat. Aspek dari daya dukung yang perlu dipertimbangkan adalah : Jumlah turis/tahun; lamanya kunjungan turis; berapa sering lokasi yang “rentan” secara ekologis dapat dikunjungi; dll. Zonasi dan pengaturannya adalah salah satu pendekatan yang akan membantu menjaga nilai konservasi dan keberlanjutan kawasan ekowisata.

Kriteria:

  • Kegiatan ekowisata telah memperhitungkan tingkat pemanfaatan ruangdan kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan melalui pelaksanaan sistem zonasi dan pengaturan waktu kunjungan
  • Fasilitas pendukung yang dibangun tidak merusak atau didirikan pada ekosistem yang sangat unik dan rentan
  •  Rancangan fasilitas umum sedapat mungkin sesuai tradisi lokal, dan masyarakat lokal terlibat dalam proses perencanaan dan pembangunan
  • Ada sistem pengolahan sampah di sekitar fasilitas umum.
  • Kegiatan ekowisata medukung program reboisasi untuk menyimbangi penggunaan kayu bakar untuk dapur dan rumah
  • Mengembangkan paket-paket wisata yang mengedepankan budaya, seni dan tradisi lokal.
  • Kegiatan sehari-hari termasuk panen, menanam, mencari ikan/melauk, berburu dapat dimasukkan ke dalam atraksi lokal untuk memperkenalkan wisatawan pada cara hidup masyarakat dan mengajak mereka menghargai pengetahuan dan kearifan lokal.

Apa yang disebut dengan ekowisata atau sering juga ditulis atau disebut dengan ekoturism,wisata ekologi, ecotourism, eco-tourism, eco tourism,          eco tour, eco-tour dsb?

‘ecotourism’ sebenarnya sudah ada sejak 1987 yang dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sbb:

“Nature or ecotourism can be defined as tourism that consist in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plantas and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in the areas.”                                                                                                                                                                                                     “Wisata alam atau pariwisata ekologis adalah perjalanan ketempat-tempat alami yang relatif masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemari) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini.”

Kemudian disempurnakan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada awal tahun 1990 yaitu sebagai berikut:

“Ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat”.

7. Pengertian dan konsep Dasar Ekowisata

Pengertian dan konsep dasar ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat

Pada saat ini, ekowisata telah berkembang. Wisata ini tidak hanya sekedar untuk melakukan pengamatan burung, mengendarai kuda, penelusuran jejak di hutan belantara, tetapi telah terkait dengan konsep pelestarian hutan dan penduduk lokal. Ekowisata ini kemudian merupakan suatu perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial. Ekowisata tidak dapat dipisahkan dengan konservasi. Oleh karenanya, ekowisata disebut sebagai bentuk perjalanan wisata bertanggungjawab.

Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang sangat erat dengan prinsip konservasi. Bahkan dalam strategi pengembangan ekowisata juga menggunakan strategi konservasi. Dengan demikian ekowisata sangat tepat dan berdayaguna dalam mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di areal yang masih alami. Bahkan dengan ekowisata pelestarian alam dapat ditingkatkan kualitasnya karena desakan dan tuntutan dari para eco-traveler.

8. Kriteria ekowisata

Adapun kriteria yang perlu diperhatikan pada tahap perencanaan ini meliputi:

a.  Rencana pengembangan ekowisata harus mengacu pada rencana pengelolaan kawasan.

Rencana pengelolaan kawasan merupakan panduan tertulis pengelolaan habitat, kegiatan, peruntuka kawasan, pengorganisasian dan monitoring dalam rangka menjamin kelestarian fungsi kawasan. Pengembangan ekowisata yang merupakan salah satu kegiatan yang diperkenankan untuk dilakukan didalam kawasan taman nasional dan taman wisata alam, dengan demikian harus sesuai dengan rencana pengelolaan kawasan.

b.   Memperhatikan kondisi ekologi/lingkungan.

Yang harus diperhatikan adalah:

Rona awal kondisi fisik, kimia, biologi dan wilayah yang akan dkembangkan menjadi obyek wisata.

  • Perilaku satwa; ekowisata yang akan dikembangkan tidak akan merubah perilaku satwa.
  • Perencanaan sarana dan prasarana harus direncanakan dengan seting alam setempat dan tidak memotong lintasan satwa/jalur satwa

c.   Memperhatikan daya tarik, keunikan alam dan prospek pemasaran daya tarik tersebut.

Pengemasan produk dan pemilihan obyek yang merupakan ciri khas dan daya tarik suatu wilayah pengembangan ekowisata harus terencana dengan baik dan variatif.

d.   Melakukan analisis potensi dan hambatan yang meliputi analisis terhadap potensi sumberdaya dan keunikan alam, analisis usaha, analisis dampak lingkungan, analisis ekonomi (cost & benefit), analisis sosial dan analisis pemanfaatan ruang.

e.   Memperhatikan kondisi sosial, budaya dan ekonomi.

  • Beberapa hal yang harus diperhatikan meliputi: Kegiatan ekowisata harus mampu memberdayakan masyarakat sekitar.
  • Memperhatikan rona awal sosial, budaya dan ekonomi dari wilayah yang akan dikembangkan menjadi obyek.
  • Membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar.
  • Merangsang/memotivator pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

f. Tata Ruang

  • Yang harus diperhatikan:
    Kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan melalui pelaksanaan sistem pemintakatan (zonasi).
  • Perencanaan pembangunan wilayah setempat; ekowisata yang akan dikembangkan harus terintegrasi dengan pembangunan wilayah setempat.

g.   Menyusun Action Plan/Rancang Tindak Terintegrasi atas dasar analisis yang telah dilakukan

h.   Melakukan Public Hearing/Konsultasi Publik terhadap rencana yang akan dikembangkan.

9. Ekowisata Berbasis Masyarakat

Pola ekowisata berbasis masyarakat adalah pola pengembangan ekowisata yangmendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh oleh masyarakat setempat dalam

perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh

Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif komunitas. Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jualsebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak. Polaekowisata berbasis masyarakat mengakui hak masyarakat lokal dalam mengelolakegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun sebagai pengelola.                  

Ekowisata berbasis masyarakat dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, dan mengurangi kemiskinan, di mana penghasilan ekowisata adalah dari jasa-jasa wisata untuk turis: fee pemandu; ongkos transportasi; homestay; menjual kerajinan, dll.

Ekowisata membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan ekowisata.
Dengan adanya pola ekowisata berbasis masyarakat bukan berarti bahwa masyarakatakan menjalankan usaha ekowisata sendiri. Tataran implementasi ekowisata perludipandang sebagai bagian dari perencanaan pembangunan terpadu yang dilakukan disuatu daerah. Untuk itu, pelibatan para pihak terkait mulai dari level komunitas,masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan organisasi non pemerintah diharapkanmembangun suatu jaringan dan menjalankan suatu kemitraan yang baik sesuai perandan keahlian masing-masing.

Beberapa aspek kunci dalam ekowisata berbasis masyarakat adalah:

􀂃    Masyarakat membentuk panitia atau lembaga untuk pengelolaan kegiatanekowisata di daerahnya, dengan dukungan dari pemerintah dan organisasi masyarakat (nilai partisipasi masyarakat dan edukasi)

􀂃   Prinsip local ownership (=pengelolaan dan kepemilikan oleh masyarakat setempat) diterapkan sedapat mungkin terhadap sarana dan pra-sarana ekowisata, kawasan ekowisata, dll (nilai partisipasi masyarakat)

􀂃   Homestay menjadi pilihan utama untuk sarana akomodasi di lokasi wisata (nilaiekonomi dan edukasi)

􀂃   Pemandu adalah orang setempat (nilai partisipasi masyarakat)

􀂃    Perintisan, pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata menjadi tanggungjawabmasyarakat setempat, termasuk penentuan biaya (=fee) untuk wisatawan (nilaiekonomi dan wisata).

 

Beberapa aspek kunci dalam ekowisata adalah:

􀂃   Jumlah pengunjung terbatas atau diatur supaya sesuai dengan daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakat (vs mass tourism)

􀂃   Pola wisata ramah lingkungan (nilai konservasi)

􀂃   Pola wisata ramah budaya dan adat setempat (nilai edukasi dan wisata)

􀂃   Membantu secara langsung perekonomian masyarakat lokal (nilai ekonomi)

􀂃   Modal awal yang diperlukan untuk infrastruktur tidak besar (nilai partisipasi masyarakat dan ekonomi).

10. Ekowisata dan konservasi

Sejak 1970an, organisasi konservasi mulai melihat ekowisata sebagai alternatif ekonomi yang berbasis konservasi karena tidak merusak alam ataupun tidak “ekstraktif” dengan berdampak negatif terhadap lingkungan seperti penebangan dan pertambangan.

Ekowisata juga dianggap sejenis usaha yang berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan konservasi.

Namun agar ekowisata tetap berkelanjutan, perlu tercipta kondisi yang memungkinkan di mana masyarakat diberi wewenang untuk mengambil keputusan dalam pengelolaan usaha ekowisata, mengatur arus dan jumlah wisatawan, dan mengembangkan ekowisata sesuai visi dan harapan masyarakat untuk masa depan.

Ekowisata dihargai dan dkembangkan sebagai salah satu program usaha yang sekaligus bisa menjadi strategi konservasi dan dapat membuka alternatif ekonomi bagi masyarakat. Dengan pola ekowisata, masyarakat dapat memanfaatkan keindahan alam yang masih utuh, budaya, dan sejarah setempat tanpa merusak atau menjual isinya.

11.  Prinsip-prinsip pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dan Konservasi

 

a.     Keberlanjutan Ekowisata dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan

(prinsip konservasi dan partisipasi masyarakat)

Ekowisata yang dikembangkan di kawasan konservasi adalah ekowisata yang “HIJAUdan ADIL” (Green& Fair) untuk kepentingan pembangunan berkelanjutan dankonservasi, yaitu sebuah kegiatan usaha yang bertujuan untuk menyediakan alternatifekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan yang dilindungi, berbagimanfaat dari upaya konservasi secara layak (terutama bagi masyarakat yang lahan dan sumber daya alamnya berada di kawasan yang dilindungi), dan berkontribusi pada konservasi dengan meningkatkan kepedulian dan dukungan terhadap perlindungan bentang lahan yang memiliki nilai biologis, ekologis dan nilai sejarah yang tinggi.

Kriteria:

  • • Prinsip daya dukung lingkungan diperhatikan dimana tingkat kunjungan

dan kegiatan wisatawan pada sebuah daerah tujuan ekowisata dikelola

sesuai dengan batas-batas yang dapat diterima baik dari segi alammaupun sosial-budaya

  • • Sedapat mungkin menggunakan teknologi ramah lingkungan (listrik tenaga surya, mikrohidro, biogas, dll.)
  • • Mendorong terbentuknya ”ecotourism conservancies” atau kawasan ekowisata sebagai kawasan dengan peruntukan khusus yang pengelolaannya diberikan kepada organisasi masyarakat yang berkompeten

b.  Pengembangan institusi masyarakat lokal dan kemitraan (Prinsip partisipasi masyarakat)

Aspek organisasi dan kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata juga menjadi isu kunci pentingnya dukungan yang profesional dalam menguatkan organisasi lokal secara kontinyu, mendorong usaha yang mandiri dan menciptakan kemitraan yang adil dalam pengembangan ekowisata. Beberapa contoh di lapangan menunjukan bahwa ekowisata di tingkat lokal dapat dikembangkan melalui kesepakatan dan kerjasama yang baik antara Tour Operator dan organisasi masyarakat (contohnya: KOMPAKH,LSM Tana Tam). Peran organisasi masyarakat sangat penting oleh karena masyarakat adalah stakeholder utama dan akan mendapatkan manfaat secara langsung dari pengembangan dan pengelolaan ekowisata.

Koordinasi antar stakeholders juga perlu mendapatkan perhatian. Salah satu model percontohan organisasi pengelolaan ekowisata yang melibatkan semua stakeholders termasuk, masyarakat, pemerintah daerah, UPT, dan sector swasta, adalah ”Rinjani

Trek Management Board.” Terbentuknya Forum atau dewan pembina akan banyak membantu pola pengelolaan yang adil dan efektif terutama di daerah di mana ekowisata merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat setempat.

Kriteria:

  • • Dibangun kemitraan antara masyarakat dengan Tour Operator untuk

memasarkan dan mempromosikan produk ekowisata; dan antara lembaga masyarakat dan Dinas Pariwisata dan UPT

  • • Adanya pembagian adil dalam pendapatan dari jasa ekowisata di masyarakat
  • • Organisasi masyarakat membuat panduan untuk turis. Selama turis berada di wilayah masyarakat, turis/tamu mengacu pada etika yang tertulis di dalam panduan tersebut.
  • • Ekowisata memperjuangkan prinsip perlunya usaha melindungi pengetahuan serta hak atas karya intelektual masyarakat lokal, termasuk:

foto, kesenian, pengetahuan tradisional, musik, dll.

c.  Ekonomi berbasis masyarakat (Prinsip partisipasi masyarakat)

Homestay adalah sistem akomodasi yang sering dipakai dalam ekowisata. Homestay bisa mencakup berbagai jenis akomodasi dari penginapan sederhana yang dikelola secara langsung oleh keluarga sampai dengan menginap di rumah keluarga setempat.

Homestay bukan hanya sebuah pilihan akomodasi yang tidak memerlukan modal yang tinggi, dengan sistem homestay pemilik rumah dapat merasakan secara langsung manfaat ekonomi dari kunjungan turis, dan distribusi manfaat di masyarakat lebih terjamin. Sistem homestay mempunyai nilai tinggi sebagai produk ekowisata di mana soerang turis mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai alam, budaya masyarakat dan kehidupan sehari-hari di lokasi tersebut.Pihak turis dan pihak tuan rumah bisa saling mengenal dan belajar satu sama lain, dan dengan itu dapat menumbuhkan toleransi dan pemahaman yang lebih baik. Homestay sesuai dengan tradisi keramahan orang Indonesia.

Dalam ekowisata, pemandu adalah orang lokal yang pengetahuan dan pengalamannya tentang lingkungan dan alam setempat merupakan aset terpenting dalam jasa yang diberikan kepada turis. Demikian juga seorang pemandu lokal akan merasakan langsung manfaat ekonomi dari ekowisata, dan sebagai pengelola juga akan menjaga kelestarian alam dan obyek wisata.

Kriteria:

  • Ekowisata mendorong adanya regulasi yang mengatur standar kelayakan homestay sesuai dengan kondisi lokasi wisata
  • Ekowisata mendorong adanya prosedur sertifikasi pemandu sesuai dengan kondisi lokasi wisata
  • Ekowisata mendorong ketersediaan homestay
  • Ekowisata dan tour operator turut mendorong peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta perilaku bagi para pelaku ekowisata terutama Masyarakat

d.  Prinsip Edukasi:

Ekowisata memberikan banyak peluang untuk memperkenalkan kepada wisatawan tentang pentingnya perlindungan alam dan penghargaan terhadap kebudayaan lokal.

Dalam pendekatan ekowisata, Pusat Informasi menjadi hal yang penting dan dapat juga dijadikan pusat kegiatan dengan tujuan meningkatkan nilai dari pengalaman seorang turis yang bisa memperoleh informasi yang lengkap tentang lokasi atau kawasan dari segi budaya, sejarah, alam, dan menyaksikan acara seni, kerajinan dan produk budaya lainnya.

Kriteria:

  • • Kegiatan ekowisata mendorong masyarakat mendukung dan mengembangkan upaya konservasi
    • Kegiatan ekowisata selalu beriringan dengan aktivitas meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengubah perilaku masyarakat tentang perlunya upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
    • Edukasi tentang budaya setempat dan konservasi untuk para turis/tamu menjadi bagian dari paket ekowisata
    • Mengembangkan skema di mana tamu secara sukarela terlibat dalam kegiatan konservasi dan pengelolaan kawasan ekowisata selama kunjungannya (stay & volunteer).

 

e.  Pengembangan dan penerapan rencana tapak dan kerangka kerja pengelolaan lokasi ekowisata (prinsip konservasi dan wisata).

    Dalam perencanaan kawasan ekowisata, soal daya dukung (=carrying capacity) perlu diperhatikan sebelum perkembanganya ekowisata berdampak negative terhadap alam (dan budaya) setempat. Aspek dari daya dukung yang perlu dipertimbangkan adalah : Jumlah turis/tahun; lamanya kunjungan turis; berapa sering lokasi yang “rentan” secara ekologis dapat dikunjungi; dll. Zonasi dan pengaturannya adalah salah satu pendekatan yang akan membantu menjaga nilai konservasi dan keberlanjutan kawasan ekowisata.

Kriteria:

  • Kegiatan ekowisata telah memperhitungkan tingkat pemanfaatan ruangdan kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan melalui pelaksanaan sistem zonasi dan pengaturan waktu kunjungan
  • Fasilitas pendukung yang dibangun tidak merusak atau didirikan pada ekosistem yang sangat unik dan rentan
  • • Rancangan fasilitas umum sedapat mungkin sesuai tradisi lokal, dan masyarakat lokal terlibat dalam proses perencanaan dan pembangunan
  • Ada sistem pengolahan sampah di sekitar fasilitas umum.
  • • Kegiatan ekowisata medukung program reboisasi untuk menyimbangi penggunaan kayu bakar untuk dapur dan rumah
  • Mengembangkan paket-paket wisata yang mengedepankan budaya, seni dan tradisi lokal.
  • • Kegiatan sehari-hari termasuk panen, menanam, mencari ikan/melauk, berburu dapat dimasukkan ke dalam atraksi lokal untuk memperkenalkan wisatawan pada cara hidup masyarakat dan mengajak mereka menghargai pengetahuan dan kearifan lokal.                                                                                                                                                                    

 

12.  KARAKTERISTIK EKOWISATA

Secara konseptul ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Sementara ditinjau dari segi pengelolaanya, ekowisata dapat didifinisikan sebagai penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab di tempat-tempat alami dan atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan kaidah alam dan secara ekonomi berkelanjutan yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatnkan kesejahtraan masyarakat setempat.

13. PRINSIP EKOWISATA

1.  Memiliki kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan alam dan budaya, melaksanakan kaidah-kaidah usaha yang bertanggung jawab dan ekonomi berkelanjutan.

Kriteria:

    Memperhatikan kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan, melalui pelaksanaan system pemintakatan (zonasi).

    Mengelola jumlah pengunjung, sarana dan fasilitas sesuai dengan daya dukung lingkungan daerah tujuan.

    Meningkatkan kesadaran dan apresiasi para pelaku terhadap lingkungan alam dan budaya.

   Memanfaatkan sumber daya lokal secara lestari dalam penyelenggaraan kegiatan ekowisata.

    Meminimumkan dampak negatif yang ditimbulkan, dan bersifat ramah lingkungan.

    Mengelola usaha secara sehat.

    Menekan tingkat kebocoran pendapatan (leakage) serendah-rendahnya.

    Meningkatkan pendapatan masyarakat setempat

2.  Pengembangan harus mengikuti kaidah-kaidah ekologis dan atas dasar musyawarah dan pemufakatan masyarakat setempat.

Kriteria:

   Melakukan penelitian dan perencanaan terpadu dalam pengembangan ekowisata.

  Membangun hubungan kemitraan dengan masyarakat setempat dalam proses perencanaan dan pengelolaan ekowisata.

  Menggugah prakarsa dan aspirasi masyarakat setempat untuk pengembangan ekowisata.

  Memberi kebebasan kepada masyarakat untuk bisa menerima atau menolak pengembangan ekowisata.

  Menginformasikan secara jelas dan benar konsep dan tujuan pengembangan kawasan tersebut kepada masyarakat setempat.

  Membuka kesempatan untuk melakukan dialog dengan seluruh pihak yang terlibat (multistakeholders) dalam proses perencanaan dan pengelolaan ekowisata

3.  Memberikan manfaat kepada masyarakat setempat

Kriteria :

  • Membuka kesempatan keapda masyarakat setempat untuk membuka usaha ekowisata dan menjadi pelaku-pelaku ekonomi kegiatan ekowisata baik secara aktif maupun pasif.
  • Memberdayakan masyarakat dalam upaya peningkatan usaha ekowisata untuk meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat.
  • Meningkatkan ketrampilan masyarakat setempat dalam bidang-bidang yang berkaitan dan menunjang pengembangan ekowisata.
  • Menekan tingkat kebocoran pendapatan (leakage) serendah-rendahnya
  1. Peka dan menghormati nilai-nilai sosial budaya dan tradisi keagamaan masyarakat setempat

Kriteria:

  • Menetapkan kode etik ekowisata bagi wisatawan, pengelola dan pelaku usaha ekowisata.
  • Melibatkan masyarakat setempat dan pihak-pihak lainya (multi-stakeholders) dalam penyusunan kode etik wisatawan, pengelola dan pelaku usaha ekowisata.
  • Melakukan pendekatan, meminta saran-saran dan mencari masukan dari tokoh/pemuka masyarakat setempat pada tingkat paling awal sebelum memulai langkah-langkah dalam proses pengembangan ekowisata.
  • Melakukan penelitian dan pengenalan aspek-aspek sosial budaya masyarakat setempat sebagai bagian terpadu dalam proses perencanaan dan pengelolaan ekowisata.
  1. Memperhatikan perjanjian, peraturan, perundang-undangan baik ditingkat nasional maupun internasional.

kriteria:

  • Memperhatikan dan melaksanakan secara konsisten: Dokumen-dokumen Internasional yang mengikat (Agenda 21, Habitat Agenda, Sustainable Tourism, Bali Declaration dsb.). GBHN Pariwisata Berkelanjutan, Undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku.
  • Menyusun peraturan-peraturan baru yang diperlukan dan memperbaiki dan menyempurnakan peraturan-peraturan lainnya yang telah ada sehingga secara keseluruhan membentuk sistem per-UU-an dan sistem hukum yang konsisten.
  • Memberlakukan peraturan yang berlaku dan memberikan sangsi atas pelanggarannya secara konsekuen sesuai dengan ketentuan yang berlaku (law enforcement).
  • Membentuk kerja sama dengan masyarakat setempat untuk melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap dilanggarnya peraturan yang berlaku.

14. Ekowisata Indonesia

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam dan peninggalan sejarah, seni dan budaya yang sangat besar sebagai daya tarik pariwisata dunia. Ahli biokonservasi memprediksi bahwa Indonesia yang tergolong negara Megadiversity dalam hal keaneka ragaman hayati akan mampu menggeser Brasil sebagai negara tertinggi akan keaneka jenis, jika para ahli biokonservasi terus giat melakukan pengkajian ilmiah terhadap kawasan yang belum tersentuh.

 Di dunia hewan, Indonesia juga memiliki kedudukan yang istimewa di dunia. Dari 500-600 jenis mamalia besar (36% endemik), 35 jenis primata (25% endemik), 78 jenis paruh bengkok (40% endemik) dan 121 jenis kupu-kupu (44% endemik) (McNeely et.al. 1990, Supriatna 1996). Sekitar 59% dari luas daratan Indonesia merupakan hutan hujan tropis atau sekitar 10% dari luas hutan yang ada di dunia (Stone, 1994). Sekitar 100 juta hektar diantaranya diklasifikasikan sebagai hutan lindung, yang 18,7 juta hektarnya telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi.

Namun Demikian sampai saat ini kita harus menanggung beban berat sebagai negara terkaya keaneka ragaman hayati di kawasan yang sangat sensitif, karena biota Indonesia tersebar di lebih dari 17,000 pulau. Oleh karena itu bukan saja jumlah populasi setiap individu tidak besar tetapi juga distribusinya sangat terbatas. Ini harus disadari oleh pemerintah, sehingga Indonesia harus merumuskan suatu kebijakan dan membuat pendekatan yang berbeda di dalam pengembangan sistem pemanfaatan keaneka ragaman hayatinya, terutama kebijakan dalam pengembangan pariwisata yang secara langsung memanfaatkan sumber daya alam sebagai aset. Pengembangan sumber daya alam yang non-ekstraktif, non-konsumtif dan berkelanjutan perlu diprioritaskan dan dalam bidang Pariwisata pengembangan seperti ekowisata harus menjadi pilihan utama.

 15. Visi Ekowisata Indonesia

Melihat potensi yang dimiliki Indonesia, maka Visi Ekowisata Indonesia adalah untuk menciptakan pengembangan pariwisata melalui penyelenggaraan yang mendukung upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya), melibatkan dan menguntungkan masyarakat setempat, serta menguntungkan secara komersial. Dengan visi ini Ekowisata memberikan peluang yang sangat besar, untuk mempromosikan pelestarian keaneka-ragaman hayati Indonesia di tingkat internasional, nasional, regional maupun lokal.

Penetapan Visi Ekowisata di atas di dasarkan pada beberapa unsur utama:

  1. Ekowisata sangat tergantung pada kualitas sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya.

Kekayaan keaneka-ragaman hayati merupakan daya tarik utama bagi pangsa pasar ekowisata, sehingga kualitas, keberlanjutan dan pelestarian sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya menjadi sangat penting untuk ekowisata. Pengembangan ekowisata juga memberikan peluang yang sangat besar, untuk mempromosikan pelestarian keaneka-ragaman hayati Indonesia di tingkat internasional, nasional, regional dan lokal.

  1. Pelibatan Masyarakat.
    Pada dasarnya pengetahuan tentang alam dan budaya serta kawasan daya tarik wisata, dimiliki oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu pelibatan masyarakat menjadi mutlak, mulai dari tingkat perencanaan hingga pada tingkat pengelolaan.
  2. Ekowisata meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya.

Ekowisata memberikan nilai tambah kepada pengunjung dan masyarakat setempat dalam bentuk pengetahuan dan pengalaman. Nilai tambah ini mempengaruhi perubahan perilaku dari pengunjung, masyarakat dan pengembang pariwisata agar sadar dan lebih menghargai alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya.

  1. Pertumbuhan pasar ekowisata di tingkat internasional dan nasional.
    Kenyataan memperlihatkan kecendrungan meningkatnya permintaan terhadap produk ekowisata baik ditingkat internasional maupun nasional. Hal ini disebabkan meningkatnya promosi yang mendorong orang untuk berprilaku positif terhadap alam dan berkeinginan untuk mengunjungi kawasan-kawasan yang masih alami agar dapat meningkatkan kesadaran, penghargaan dan kepeduliannya terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya setempat.
  2. Ekowisata sebagai sarana mewujudkan ekonomi berkelanjutan.
    Ekowisata memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan bagi penyelenggara, pemerintah dan masyarakat setempat, melalui kegiatan-kegiatan yang non-ekstraktif dan non-konsumtif sehingga meningkatkan perekonomian daerah setempat. Penyelenggaraan yang memperhatikan kaidah-kaidah ekowisata, mewujudkan ekonomi berkelanjutan.

 

Tujuan Ekowisata Indonesia

Tujuan Ekowisata Indonesia adalah untuk :

(1)  Mewujudkan penyelenggaraan wisata yang bertanggung jawab, yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan alam, peninggalan sejarah dan budaya;

(2)  Meningkatkan partisipasi masyararakat dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat;

(3) Menjadi model bagi pengembangan pariwisata lainnya, melalui penerapan kaidah-kaidah ekowisata.

PERENCANAAN PENGELOLAAN EKOWISATA

 

Perencanaan ekowisata adalah alat untuk membimbing pengembangan pariwisata pada daerah yang dilindungi dengan melakukan sintesis dan menggunakan visi dari semua pemangku kepentingan untuk tujuan konservasi pada lokasi tersebut.

Perencanaan pengelolaan ekowisata seharusnya mengambarkan jenis ekowisata apa yang dapat dilakukan atau kegiatan publik apa yang bisa dilakukan di daerah yang dilindungi tersebut. Perencanaan pengelolaan ekowisata ini juga biasanya mengembangkan pewilayahan (zoning) yang didesain dan yang diperbolehkan untuk kegiatan kepariwisataan.

Perencanaan pengelolaan ekowisata harus mengacu kepada rencana pengelolaan umum (General Mangement Plan) dan rencana daerah konservasi (Site Conservation Plan).

Rencana pengelolaan umum ini menjelaskan tujuan dan umum dan tujuan khusus yang telah disusun untuk sistem konservasi pada daerah yang dilindungi. Pada rencana ini terdapat pewilayahan, strategi, program dan aktivitas-aktivitas yang bertujuan untuk mencapai tujuan umum dan tujuan khusus. Rencana daerah konservasi merupakan komponen dari perencanaan pengelolaan umum yang lebih fokus pada kasus-kasus dan alternatif strategi untuk mengatasi ancaman-ancaman terhadap kegiatan konservasi yang dilakukan dan mungkin salah satunya adalah kegiatan ekowisata.

Dalam perencanaan kegiatan ekowisata ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan antara lain:

1.  Daerah yang dilindungi harus direncanakan sebagai bagian integral dari pengembangan wilayah.

2. Tujuan pengelolaan harus disusun untuk setiap tingkatan

3. Perencanaan yang baik harus disusun oleh tim yang terdiri dari berbagai disiplin, institusi dan berbagai cara pandang.

4. Diharapkan dengan interaksi dari berbagai disiplin, institusi dan cara pandang didapatkan situasi yang sinergi untuk menghasilkan suatu perencanaan yang baik.

5. Perencanaan yang baik tergantung dari efektivitas partisipasi semua pemangku kepentingan.

Dalam penyusunan rencana pengelolaan ekowisata ada beberapa langkah

yang harus dilakukan antara lain:

1.  Langkah pertama adalah perencanaan wilayah konservasi dan evaluasi pendahuluan wilayah (site conservation plan and prelimenery site evaluation).

2. Langkah kedua adalah diagnostik wilayah secara menyeluruh (full site diagnostic)

3.  Langkah ketiga adalah analisis data dan menyiapkan rencana.

4.  Langkah keempat adalah Implementasi rencana pengelolaan ekowisata

5. Langkah kelima mengukur kesuksesan.

Penjelasan dari setiap langkah-langkah ini akan dijelaskan pada bab selanjutnya dan sebagai gambar proses secara keseluruhan perencanaan pengelolaan

 

 16. PERENCANAAN WILAYAH KONSERVASI

Perencanaan wilayah konservasi merupakan kerangka kerja pragmatic conservasionist untuk mendeterminasi apa yang akan dilindungi (conservation targets), bagaimana konservasi dilakukan, oleh siapa konservasi dilakukan, pemangku kepentingan siapa saja yang terlibat, dan kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan konservasi.

Kerangka kerja ini tahap pertama mengidentifikasi sistem ekologi dan keragaman komunitas di wilayah perencanaan. mengidentifikasi integritas ekologi (biodiversity health), menguji

status kesehatan keanekaragaman hayati, dan menyusun tujuan konservasi pada wilayah target. Setelah mengidentifikasi sistem yang akan dikonservasi, tahap selanjutnya tahap kedua adalah mengidentifikasi ancaman atau stress dan sumber ancaman atau stress yang potensial menganggu tujuan konservasi. Berdasarkan jenis dan sumber ancaman atau stress tersebut maka disusun strategi untuk pengelolaan dan restorasi dan penghilangan sumber ancaman.

Strategi yang sudah disusun kemudian dievaluasi dan dirangking

berdasarkan tiga kriteria yaitu:

1.  Keuntungan: menghilangkan ancaman terhadap konservasi, meningkatkan

viabilitas target konservasi), contoh: reduksi status ancaman, meningkatkan

    biodiversity health, dan pengukit proses konservasi

2. Feasibility atau kemungkinan keberhasilan, contoh : institusi dan personal

pimpinan, kompleksitas dan pengaruh eksternal dan

3. Biaya implementasi.

 

Daftar Pustaka

Sumber:

www.ekowisata.info/pedoman_ekowisata id.wikipedia.org/wiki/Ekowisata

wwfid.panda.org/…/wwf_indonesia_prinsip_dan_kriteria_ecotourism_jan_2009.pdf

http://www.dephut.go.id/informasi/phpa/ewisata.htm

saveforest.webs.com/klh_ekowisata.pdf

ekowisataku.blogspot.com/

khatulistiwa.info/ekowisata.html

http://www.scribd.comResearchBusiness & Economics

http://www.wisatamelayu.comBerandaArtikel

subadra.wordpress.com/…/ekowisata-wahana-pelestarian-alam/

staff.ui.ac.id/internal/132058059/…/ekowisatamuaragembong1.doc

timpakul.web.id/ekowisata.html

 

 

Secara konseptul ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Sementara ditinjau dari segi pengelolaanya, ekowisata dapat didifinisikan sebagai penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab di tempat-tempat alami dan atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan kaidah alam dan secara ekonomi berkelanjutan yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatnkan kesejahtraan masyarakat setempat.

PRINSIP EKOWISATA

1.  Memiliki kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan alam dan budaya, melaksanakan kaidah-kaidah usaha yang bertanggung jawab dan ekonomi berkelanjutan.

Kriteria:

    Memperhatikan kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan, melalui pelaksanaan system pemintakatan (zonasi).

    Mengelola jumlah pengunjung, sarana dan fasilitas sesuai dengan daya dukung lingkungan daerah tujuan.

    Meningkatkan kesadaran dan apresiasi para pelaku terhadap lingkungan alam dan budaya.

   Memanfaatkan sumber daya lokal secara lestari dalam penyelenggaraan kegiatan ekowisata.

    Meminimumkan dampak negatif yang ditimbulkan, dan bersifat ramah lingkungan.

    Mengelola usaha secara sehat.

    Menekan tingkat kebocoran pendapatan (leakage) serendah-rendahnya.

    Meningkatkan pendapatan masyarakat setempat

2.  Pengembangan harus mengikuti kaidah-kaidah ekologis dan atas dasar musyawarah dan pemufakatan masyarakat setempat.

Kriteria:

   Melakukan penelitian dan perencanaan terpadu dalam pengembangan ekowisata.

  Membangun hubungan kemitraan dengan masyarakat setempat dalam proses perencanaan dan pengelolaan ekowisata.

  Menggugah prakarsa dan aspirasi masyarakat setempat untuk pengembangan ekowisata.

  Memberi kebebasan kepada masyarakat untuk bisa menerima atau menolak pengembangan ekowisata.

  Menginformasikan secara jelas dan benar konsep dan tujuan pengembangan kawasan tersebut kepada masyarakat setempat.

  Membuka kesempatan untuk melakukan dialog dengan seluruh pihak yang terlibat (multistakeholders) dalam proses perencanaan dan pengelolaan ekowisata

3.  Memberikan manfaat kepada masyarakat setempat

Kriteria :

  • Membuka kesempatan keapda masyarakat setempat untuk membuka usaha ekowisata dan menjadi pelaku-pelaku ekonomi kegiatan ekowisata baik secara aktif maupun pasif.
  • Memberdayakan masyarakat dalam upaya peningkatan usaha ekowisata untuk meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat.
  • Meningkatkan ketrampilan masyarakat setempat dalam bidang-bidang yang berkaitan dan menunjang pengembangan ekowisata.
  • Menekan tingkat kebocoran pendapatan (leakage) serendah-rendahnya
  1. Peka dan menghormati nilai-nilai sosial budaya dan tradisi keagamaan masyarakat setempat

Kriteria:

  • Menetapkan kode etik ekowisata bagi wisatawan, pengelola dan pelaku usaha ekowisata.
  • Melibatkan masyarakat setempat dan pihak-pihak lainya (multi-stakeholders) dalam penyusunan kode etik wisatawan, pengelola dan pelaku usaha ekowisata.
  • Melakukan pendekatan, meminta saran-saran dan mencari masukan dari tokoh/pemuka masyarakat setempat pada tingkat paling awal sebelum memulai langkah-langkah dalam proses pengembangan ekowisata.
  • Melakukan penelitian dan pengenalan aspek-aspek sosial budaya masyarakat setempat sebagai bagian terpadu dalam proses perencanaan dan pengelolaan ekowisata.
  1. Memperhatikan perjanjian, peraturan, perundang-undangan baik ditingkat nasional maupun internasional.

kriteria:

  • Memperhatikan dan melaksanakan secara konsisten: Dokumen-dokumen Internasional yang mengikat (Agenda 21, Habitat Agenda, Sustainable Tourism, Bali Declaration dsb.). GBHN Pariwisata Berkelanjutan, Undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku.
  • Menyusun peraturan-peraturan baru yang diperlukan dan memperbaiki dan menyempurnakan peraturan-peraturan lainnya yang telah ada sehingga secara keseluruhan membentuk sistem per-UU-an dan sistem hukum yang konsisten.
  • Memberlakukan peraturan yang berlaku dan memberikan sangsi atas pelanggarannya secara konsekuen sesuai dengan ketentuan yang berlaku (law enforcement).
  • Membentuk kerja sama dengan masyarakat setempat untuk melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap dilanggarnya peraturan yang berlaku.

17. EKOWISATA INDONESIA

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam dan peninggalan sejarah, seni dan budaya yang sangat besar sebagai daya tarik pariwisata dunia. Ahli biokonservasi memprediksi bahwa Indonesia yang tergolong negara Megadiversity dalam hal keaneka ragaman hayati akan mampu menggeser Brasil sebagai negara tertinggi akan keaneka jenis, jika para ahli biokonservasi terus giat melakukan pengkajian ilmiah terhadap kawasan yang belum tersentuh.

 Di dunia hewan, Indonesia juga memiliki kedudukan yang istimewa di dunia. Dari 500-600 jenis mamalia besar (36% endemik), 35 jenis primata (25% endemik), 78 jenis paruh bengkok (40% endemik) dan 121 jenis kupu-kupu (44% endemik) (McNeely et.al. 1990, Supriatna 1996). Sekitar 59% dari luas daratan Indonesia merupakan hutan hujan tropis atau sekitar 10% dari luas hutan yang ada di dunia (Stone, 1994). Sekitar 100 juta hektar diantaranya diklasifikasikan sebagai hutan lindung, yang 18,7 juta hektarnya telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi.

Namun Demikian sampai saat ini kita harus menanggung beban berat sebagai negara terkaya keaneka ragaman hayati di kawasan yang sangat sensitif, karena biota Indonesia tersebar di lebih dari 17,000 pulau. Oleh karena itu bukan saja jumlah populasi setiap individu tidak besar tetapi juga distribusinya sangat terbatas. Ini harus disadari oleh pemerintah, sehingga Indonesia harus merumuskan suatu kebijakan dan membuat pendekatan yang berbeda di dalam pengembangan sistem pemanfaatan keaneka ragaman hayatinya, terutama kebijakan dalam pengembangan pariwisata yang secara langsung memanfaatkan sumber daya alam sebagai aset. Pengembangan sumber daya alam yang non-ekstraktif, non-konsumtif dan berkelanjutan perlu diprioritaskan dan dalam bidang Pariwisata pengembangan seperti ekowisata harus menjadi pilihan utama.

 

VISI EKOWISATA INDONESIA

Melihat potensi yang dimiliki Indonesia, maka Visi Ekowisata Indonesia adalah untuk menciptakan pengembangan pariwisata melalui penyelenggaraan yang mendukung upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya), melibatkan dan menguntungkan masyarakat setempat, serta menguntungkan secara komersial. Dengan visi ini Ekowisata memberikan peluang yang sangat besar, untuk mempromosikan pelestarian keaneka-ragaman hayati Indonesia di tingkat internasional, nasional, regional maupun lokal.

Penetapan Visi Ekowisata di atas di dasarkan pada beberapa unsur utama:

  1. Ekowisata sangat tergantung pada kualitas sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya.

Kekayaan keaneka-ragaman hayati merupakan daya tarik utama bagi pangsa pasar ekowisata, sehingga kualitas, keberlanjutan dan pelestarian sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya menjadi sangat penting untuk ekowisata. Pengembangan ekowisata juga memberikan peluang yang sangat besar, untuk mempromosikan pelestarian keaneka-ragaman hayati Indonesia di tingkat internasional, nasional, regional dan lokal.

  1. Pelibatan Masyarakat.
    Pada dasarnya pengetahuan tentang alam dan budaya serta kawasan daya tarik wisata, dimiliki oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu pelibatan masyarakat menjadi mutlak, mulai dari tingkat perencanaan hingga pada tingkat pengelolaan.
  2. Ekowisata meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya.

Ekowisata memberikan nilai tambah kepada pengunjung dan masyarakat setempat dalam bentuk pengetahuan dan pengalaman. Nilai tambah ini mempengaruhi perubahan perilaku dari pengunjung, masyarakat dan pengembang pariwisata agar sadar dan lebih menghargai alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya.

  1. Pertumbuhan pasar ekowisata di tingkat internasional dan nasional.
    Kenyataan memperlihatkan kecendrungan meningkatnya permintaan terhadap produk ekowisata baik ditingkat internasional maupun nasional. Hal ini disebabkan meningkatnya promosi yang mendorong orang untuk berprilaku positif terhadap alam dan berkeinginan untuk mengunjungi kawasan-kawasan yang masih alami agar dapat meningkatkan kesadaran, penghargaan dan kepeduliannya terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya setempat.
  2. Ekowisata sebagai sarana mewujudkan ekonomi berkelanjutan.
    Ekowisata memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan bagi penyelenggara, pemerintah dan masyarakat setempat, melalui kegiatan-kegiatan yang non-ekstraktif dan non-konsumtif sehingga meningkatkan perekonomian daerah setempat. Penyelenggaraan yang memperhatikan kaidah-kaidah ekowisata, mewujudkan ekonomi berkelanjutan.

 

Tujuan Ekowisata Indonesia

Tujuan Ekowisata Indonesia adalah untuk :

(1)  Mewujudkan penyelenggaraan wisata yang bertanggung jawab, yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan alam, peninggalan sejarah dan budaya;

(2)  Meningkatkan partisipasi masyararakat dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat;

(3) Menjadi model bagi pengembangan pariwisata lainnya, melalui penerapan kaidah-kaidah ekowisata.

18.  PERENCANAAN PENGELOLAAN EKOWISATA

 

Perencanaan ekowisata adalah alat untuk membimbing pengembangan pariwisata pada daerah yang dilindungi dengan melakukan sintesis dan menggunakan visi dari semua pemangku kepentingan untuk tujuan konservasi pada lokasi tersebut.

Perencanaan pengelolaan ekowisata seharusnya mengambarkan jenis ekowisata apa yang dapat dilakukan atau kegiatan publik apa yang bisa dilakukan di daerah yang dilindungi tersebut. Perencanaan pengelolaan ekowisata ini juga biasanya mengembangkan pewilayahan (zoning) yang didesain dan yang diperbolehkan untuk kegiatan kepariwisataan.

Perencanaan pengelolaan ekowisata harus mengacu kepada rencana pengelolaan umum (General Mangement Plan) dan rencana daerah konservasi (Site Conservation Plan).

Rencana pengelolaan umum ini menjelaskan tujuan dan umum dan tujuan khusus yang telah disusun untuk sistem konservasi pada daerah yang dilindungi. Pada rencana ini terdapat pewilayahan, strategi, program dan aktivitas-aktivitas yang bertujuan untuk mencapai tujuan umum dan tujuan khusus. Rencana daerah konservasi merupakan komponen dari perencanaan pengelolaan umum yang lebih fokus pada kasus-kasus dan alternatif strategi untuk mengatasi ancaman-ancaman terhadap kegiatan konservasi yang dilakukan dan mungkin salah satunya adalah kegiatan ekowisata.

Dalam perencanaan kegiatan ekowisata ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan antara lain:

1.  Daerah yang dilindungi harus direncanakan sebagai bagian integral dari pengembangan wilayah.

2. Tujuan pengelolaan harus disusun untuk setiap tingkatan

3. Perencanaan yang baik harus disusun oleh tim yang terdiri dari berbagai disiplin, institusi dan berbagai cara pandang.

4. Diharapkan dengan interaksi dari berbagai disiplin, institusi dan cara pandang didapatkan situasi yang sinergi untuk menghasilkan suatu perencanaan yang baik.

5. Perencanaan yang baik tergantung dari efektivitas partisipasi semua pemangku kepentingan.

Dalam penyusunan rencana pengelolaan ekowisata ada beberapa langkah

yang harus dilakukan antara lain:

1.  Langkah pertama adalah perencanaan wilayah konservasi dan evaluasi pendahuluan wilayah (site conservation plan and prelimenery site evaluation).

2. Langkah kedua adalah diagnostik wilayah secara menyeluruh (full site diagnostic)

3.  Langkah ketiga adalah analisis data dan menyiapkan rencana.

4.  Langkah keempat adalah Implementasi rencana pengelolaan ekowisata

5. Langkah kelima mengukur kesuksesan.

Penjelasan dari setiap langkah-langkah ini akan dijelaskan pada bab selanjutnya dan sebagai gambar proses secara keseluruhan perencanaan pengelolaan

                    

 19. PERENCANAAN WILAYAH KONSERVASI

 

Perencanaan wilayah konservasi merupakan kerangka kerja pragmatic conservasionist untuk mendeterminasi apa yang akan dilindungi (conservation targets), bagaimana konservasi dilakukan, oleh siapa konservasi dilakukan, pemangku kepentingan siapa saja yang terlibat, dan kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan konservasi.

Kerangka kerja ini tahap pertama

mengidentifikasi sistem ekologi dan keragaman komunitas di wilayah

perencanaan. mengidentifikasi integritas ekologi (biodiversity health), menguji

status kesehatan keanekaragaman hayati, dan menyusun tujuan konservasi pada wilayah target. Setelah mengidentifikasi sistem yang akan dikonservasi, tahap selanjutnya tahap kedua adalah mengidentifikasi ancaman atau stress dan sumber ancaman atau stress yang potensial menganggu tujuan konservasi. Berdasarkan jenis dan sumber ancaman atau stress tersebut maka disusun strategi untuk pengelolaan dan restorasi dan penghilangan sumber ancaman.

Strategi yang sudah disusun kemudian dievaluasi dan dirangking

berdasarkan tiga kriteria yaitu:

1.  Keuntungan: menghilangkan ancaman terhadap konservasi, meningkatkan

viabilitas target konservasi), contoh: reduksi status ancaman, meningkatkan

    biodiversity health, dan pengukit proses konservasi

2. Feasibility atau kemungkinan keberhasilan, contoh : institusi dan personal

pimpinan, kompleksitas dan pengaruh eksternal dan

3. Biaya implementasi.

Daftar Pustaka

Sumber:

www.ekowisata.info/pedoman_ekowisata id.wikipedia.org/wiki/Ekowisata

wwfid.panda.org/…/wwf_indonesia_prinsip_dan_kriteria_ecotourism_jan_2009.pdf

http://www.dephut.go.id/informasi/phpa/ewisata.htm

saveforest.webs.com/klh_ekowisata.pdf

ekowisataku.blogspot.com/

khatulistiwa.info/ekowisata.html

http://www.scribd.comResearchBusiness & Economics

http://www.wisatamelayu.comBerandaArtikel

subadra.wordpress.com/…/ekowisata-wahana-pelestarian-alam/

staff.ui.ac.id/internal/132058059/…/ekowisatamuaragembong1.doc

timpakul.web.id/ekowisata.html